Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M – Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Sumber: Wikipedia Indonesia.
Nama beliau sering dikaitkan dengan pelaksanaan syariat islam di daerah Aceh melalui slogan: Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala yang kalau diartikan secara bebas adalah hukum adat di tangan Sultan, hukum agama di tangan Syiah Kuala.
Teungku Syiah Kuala merupakan seorang ulama terkenal dari Aceh yang menjabat sebagai Qadhi Malikul Adil yaitu seorang pejabat yang mengatur urusan keagamaan diseluruh kawasan kerajaan Aceh Darussalam. Beliau menjabat pada masa pemerintahan para Sultanah (raja wanita).
Ulama syariat paling sering ditabalkan kepada Beliau. Padahal dalam kenyataannya ia adalah seorang ulama yang tidak hanya mengamalkan syariat tetapi juga seorang mursyid Tarikat Syattariyah yang pertama sekali diberikan amanat untuk mengembangkan Islam dan tarikat ini di Indonesia oleh gurunya Syekh Ahmad al-Qusyasyi yang berasal dari Palestina dan Ibrahim al Kurani yang berasal dari Turki.
Adapun silsilah beliau adalah
Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel. Sumber: Sufi News.
Sangat disayangkan pada saat ini pelaksanaan tarikat di Aceh seolah dipasung dan hanya diajarkan di dayah saja, sedangkan di perkotaan lebih tergila – gila pada syariat yang hanya sebatas jilbab dan penggunaan huruf arab melayu untuk papan nama toko dan kantor.
Sejarahpun seolah dikaburkan dengan tidak menyertakan riwayat Beliau sebagai seorang mursyid sehingga tidak banyak generasi muda Aceh sekarang yang mengetahuinya. Mungkin sudah saatnya menggedor benak generasi sekarang bahwa Aceh selalu digawangi oleh para mursyid Tarikat dalam hal pelaksanaan agama Islam. Sebut saja tiga nama Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani dan Abdurrauf as-Singkili yang sangat terkenal dalam dunia kerajaan Aceh Darussalam.
Bisa dikatakan bahwa di Aceh pada masa jaya kerajaan Aceh Darussalam tidak pernah diberlakukan hukum syariat Islam tetapi yang diterapkan adalah hukum – hukum tarikat yang telah disesuaikan dengan adat istiadat Aceh sehingga Islam dapat berkembang di seluruh daerah dan lini kehidupan masyarakat. Jadi jika ingin mengembalikan kejayaan Aceh bukan dengan syariat tetapi mari kita amalkan kehidupan bertarikat seperti dulu.