Hitam Putih Tasawuf [1]

Monday, December 14, 2009 8:36
Posted in category Religion

Beberapa minggu yang lalu di Facebook teman ada yang masang status mengenai “Beberapa Kesamaan Tarekat Sufiyah dan Agama Syi’ah“,penasaran dengan judul itu aku langsung berlayar ke halaman dimaksud dan membaca dari awal sampai akhir sambil senyum – senyum sendiri kayak orang gila :D

Ada beberapa hal lucu yang disampaikan oleh si penulis yang sepertinya tidak pernah menggeluti tarekat secara langsung melainkan hanya membaca dari buku – buku dan omongan orang – orang yang mengaku ulama.

Kelucuan pertama:

Mengatakan bahwa Sufi dan Syi’ah memiliki kesamaan karena merasa memiliki ilmu yang tersembunyi, bahkan penulisnya mengutip kata – kata Syekh Abu Yazid Al Bustami “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya” dalam kitabnya al-Futûhât al-Makkiyah. Kalimat ini tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang – orang awam, pada kalimat ini Syekh Abu Yazid hendak menegaskan bahwa para salik telah menyelami lautan ilmu setelah mendapatkan restu dari para nabi yang berdiri di tepinya.

Hal ini wajar karena para nabi adalah orang – orang pilihan yang telah menyelam bahkan meminum air (baca: ilmu) dari lautan tersebut, untuk apa orang – orang yang telah kenyang dengan ilmu menyelam kembali bersama orang yang masih haus? Tentu saja mereka hanya berdiri ditepian sambil menunggu para penyelam kembali naik ke daratan.

Kelucuan Kedua:

Mengatakan persamaan antara Sufi dan Syi’ah adalah terlalu mengagungkan para imam mereka. Syi’ah mengatakan jika para imam diangkat dari bumi ini walaupun sebentar maka bumi akan hancur lebur, demikian juga dengan para Sufi yang mengatakan bahwa para wali ikut mengatur alam ini.

Mungkin penulisnya lupa bahwa ada hadits “Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut: Allah, Allah”. Pengucapan ini tentu saja bukan pengucapan secara vokal biasa, tetapi dengan metode dan cara yang benar sehingga nama Allah yang diucapkan dapat mencegah kiamat. Siapapun dan apapun agama seseorang, dia dapat dengan mudah menyebut Allah. Islam dan Kristen memiliki kesamaan dalam hal ini, tapi apakah sembarang orang dapat mencegah terjadinya kiamat hanya dengan mengucapkan Allah?

Para ulama sufi mengajarkan metode dan cara tersebut secara turun temurun dari guru ke muridnya. Terus seperti itu. Wajar jika kita mengidolakan guru yang memberikan ilmu tersebut daripada kita mengidolakan seseorang yang gak jelas asal usulnya.

Mengenai hak untuk mengatur alam ini, bukankah pada Allah juga melekat hak azasi yang memberikan hak kepada Allah untuk berbuat sesuka Dia? Kita gak akan pernah tahu apa maunya Allah.

Kelucuan Ketiga:

Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi’ah dan Sufi. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Semua orang berilmu pasti juga tahu bahwa dibalik wujud yang terlihat ada sesuatu yang tidak terlihat. Tubuh manusia yang dari luar terlihat terdiri dari kulit dan daging jika dibedah ternyata merupakan sebuah sistem yang kompleks. Tersusun dari jutaan syaraf dan urat, sendi dan tulang serta alat dalam tubuh lainnya.

Demikian juga dengan Islam, selain yang tersurat juga ada yang tersirat dan itu berbeda untuk setiap orang. Ada yang hanya bisa sampai kepada ilmu yang tersurat saja tanpa mampu melangkah lebih jauh tetapi tidak sedikit yang terbuka lebih daripada itu.

Karena terlalu panjang terpaksa dipisah jadi dua bagian.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply