Century dan Benteng Istana

Wednesday, February 10, 2010 9:38
Posted in category Uncategorized

Hasil copy paste dari sini

Ada pemandangan “luar biasa” di Senayan pada 13 Januari lalu. Di balkon ruang sidang Panitia Khusus Angket Century DPR itu, sejumlah pejabat eselon satu Departemen Keuangan berderet takzim menyimak penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang tengah “diadili” oleh lebih dari 20 “hakim” anggota Pansus.

Sejumlah anggota Pansus bahkan sempat terkesima dan mempertanyakan kehadiran mereka. “Saat Wakil Presiden hadir pun tidak seperti ini,” kata Gayus Lumbuun dari PDI-P. Para staf karyawan Departemen Keuangan juga melepas Sri Mulyani di Lapangan Banteng ketika berangkat menuju ruang “pengadilan” yang katanya terhormat itu.

Sokongan diberikan, karena rupanya benteng reformasi Departemen Keuangan yang selama beberapa tahun dibangun dengan susah payah di bawah kepemimpinan Sri Mulyani kini tengah digempur dan terancam lebur. Padahal baru beberapa tahun terakhir mereka mengeyam perubahan stigma yang melekat berpuluh tahun di wajah mereka sebagai institusi terkorup di negeri ini.

Sri Mulyani, bos Departemen Keuangan, kini tengah menjadi “terdakwa” utama atas kasus Bank Century. Bersama mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono, keduanya dianggap paling bertanggungjawab atas penyelamatan bank bobrok itu pada November 2008, yang menelan dana Rp 6,76 triliun. Desakan mundur pun sudah mengalir deras ke arah keduanya.

Tak terbayangkan Sri yang pernah diganjar Bung Hatta Anti-Corruption Award kini justru disidang bak tersangka koruptor di sidang Pansus. Ia dituding terlibat dalam sebuah konspirasi besar mengalirkan dana haram bailout Century ke Partai Demokrat dan tim pemenangan Pemilu Susilo Bambang Yudhoyono yang kini terpilih kembali menjadi Presiden.

Pengusutan memang diperlukan, untuk menghindarkan kita semua dari fitnah. Tapi, pagi-pagi menerakan stigma hitam itu kepada Sri Mulyani dalam kaitannya dengan kepentingan Istana rasanya terlalu gegabah. Melihat track-recordnya, Sri bersama para pembantu utamanya justru selama ini kerap mengobrak-abrik kukuhnya dinding Istana.

1. Kasus Nike dan Hartati Murdaya
Kasus ini meruap sekitar tiga tahun lalu. Di bawah kepemimpinan Dirjen Bea-Cukai Anwar Supriyadi yang saban hari sudah berkantor sejak pukul lima subuh, aparat baju biru ini menyita 40 ribu pasang sepatu buatan dua perusahaan milik Hartati senilai Rp 10 miliar karena dianggap melanggar aturan kawasan berikat (majalah Tempo, 29 Mei 2007).

Siapa pun tahu, Hartati adalah pengusaha yang dekat dengan SBY. Kecewa dengan perlakuan Bea-Cukai, sepucuk surat dilayangkannya ke Istana. Tapi, Anwar dan Sri Mulyani bergeming. Proses pengusutan jalan terus. Buntutnya, raksasa sepatu Nike memutus kontraknya dengan dua perusahaan sepatu milik Hartati yang telah menjalin bisnis berpuluh tahun.

2. Kasus saham Bakrie
Di kasus ini, Sri berduet dengan Kepala Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Fuad Rahmany. Krisis global yang merontokkan pasar uang dan saham dunia pada pertengahan 2008 , rupanya juga meluluhlantakkan saham-saham di Indonesia. Yang terparah dialami oleh Grup Bakrie, yang kala itu primadona investor di bursa lokal.

Saham grup Bakrie yang longsor hebat, membuat perusahaan ini langsung terbelit masalah utang akibat nilai jaminan sahamnya tidak lagi memadai. Bakrie terancam kehilangan kepemilikan sahamnya. Itu sebabnya, suspend atau penghentian sementara perdagangan sahamnya diminta tak buru-buru dicabut agar harga sahamnya tak terus longsor dan mereka punya cukup waktu untuk bernegosiasi.

Di titik ini, Sri dan Fuad tak hanya berbenturan hebat dengan Aburizal Bakrie yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, tapi juga dengan kalangan Istana. Sri dan Fuad memutuskan untuk tetap membuka kembali perdagangan saham grup Bakrie pada 5 November 2008 untuk menegakkan aturan main di pasar modal. Sedangkan Kubu Ical dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menentang keras, dengan alasan suspend diperlukan untuk melindungi perusahaan nasional.

Di tengah tentangan itu, pencabutan suspend saham Bumi Resources diputuskan tetap akan dilakukan. Tapi, di detik-detik akhir, rencana ini dibatalkan. Belakangan diketahui rupanya ada intervensi dari Istana Presiden. Gara-gara ini, Sri dan seluruh jajaran eselon satu sempat menyampaikan niatnya untuk mundur, jika tak lagi dipercaya menjalankan tugas sepenuhnya.

3. Kasus Pajak Asian Agri
Kali ini Sri berduet dengan Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution. Yang dihadapinya tak enteng, yaitu perusahaan sawit Asian Agri milik Sukanto Tantoto, orang terkaya di Indonesia 2006 dan 2008 versi Forbes Asia. Sri dan Darmin ngotot membawa kasus dugaan penggelapan pajak terbesar dalam sejarah Republik senilai Rp 1,4 triliun ini ke ranah pidana.

Tapi, rupanya jalan tak lempang. Dukungan pun tak didapat. Sejumlah anggota DPR, termasuk Melchias Mekeng, anggota Fraksi Golkar yang kini anggota Pansus Angket Century, meminta kasus ini diselesaikan lewat jalur damai alias sebatas sanksi administratif. Suara Istana Wakil Presiden pun sami mawon.

Padahal, aturan menyebutkan, jika kasus pajak sudah masuk tahap penyidikan, tak bisa lagi dialihkan ke jalur administratif. Ancaman sanksinya yaitu penjara dan hukuman denda 400 persen plus tunggakan pokoknya. Sebaliknya, kalau jalur damai tadi, dendanya paling banter cuma 48 persen (2 persen per bulan selama maksimal 2 tahun).

Presiden memang menyokong penuh pengusutan tuntas kasus ini. Tapi, buktinya sampai sekarang Kejaksaan dan Polisi tak pernah serius memproses kasus ini dan melimpahkannya ke pengadilan. Vincent yang membocorkan rahasia ini pun kini malah mendekam di penjara dengan hukuman 11 tahun. Dan kini Ditjen Pajak tengah berurusan dengan kasus pajak Grup Bakrie yang ditaksir merugikan negara Rp 2,1 triliun.

4. BI dan Boediono
Dalam kaitannya dengan Boediono, sumber-sumber di Bank Indonesia menuturkan sejumlah fakta. Menurut mereka, sejak Boediono masuk bank sentral, sejumlah reformasi dilakukan.

Sudah bukan rahasia umum, terdapat banyak faksi di tubuh bank sentral, baik di lingkungan pejabat dan karyawan BI maupun dalam hubungannya dengan DPR. Ini karena sistem pemilihan Dewan Gubernur BI yang tidak satu paket. Akibatnya, setiap Deputi Gubernur punya pendukung masing-masing di DPR. Dan seperti kita tahu, salah satu “orang kuat” di BI adalah Aulia Pohan, yang notabene besan Yudhoyono.

Pemecahan faksi inilah yang sedang dikerjakan Boediono. Selain itu, sebanyak 50 pengawas BI dikocok ulang untuk memutus mata rantai peluang praktek kolusi dan korupsi. Tak ada lagi tebar duit bagi wartawan di BI. Hidangan rapat pun menjadi jauh lebih sederhana.

Masalahnya, di tengah berbagai perombakan itu, Century keburu kolaps. Keputusan penyelamatan harus diambil, dan akibatnya Boediono kini menjadi tertuduh utama di mata anggota Pansus.

5. Boediono-Sri Mulyani-Kalla
Hal lain yang menarik untuk dicermati, yaitu perseteruan Jusuf Kalla versus Boediono-Sri Mulyani dalam kasus Century. Perseteruan ini seolah membuka luka lama. Kedua kubu memang sudah lama tak satu haluan. Khususnya, dalam penanganan sejumlah proyek infrastruktur, seperti listrik, kereta cepat monorel dan jalan tol.

Boediono yang kala itu menjabat Menko Perekonomian dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dianggap terlalu lelet bergerak. Kalla akhirnya menempatkan Muhammad Abduh, teman masa kecilnya, sebagai kepanjangan tangan Kantor Wakil Presiden dalam proyek infrastruktur.

Pangkal perseteruan mereka berawal dari penolakan Boediono-Sri Mulyani memberikan penjaminan pemerintah kepada investor dalam proyek ini. Keputusan Presiden nomor 59 tahun 1972 jelas melarang BUMN, BUMD dan perusahaan swasta menerima kredit luar negeri yang mengharuskan adanya jaminan pemerintah.

Lagi pula, ada dua pelajaran mahal yang harus dibayar Indonesia gara-gara pemerintah menjamin proyek serupa di masa Soeharto dulu. Lantaran membatalkan PLTU Dieng dan Patuha, Indonesia diharuskan membayar US$ 260 juta kepada Overseas Private Investment Corporation (OPIC) dan US$ 300 juta kepada Karaha Bodas Company untuk PLTU Karaha Bodas.

Di proyek Monorel, benturan hebat sekali lagi terjadi. Boediono-Sri Mulyani semula juga menolak memberikan penjaminan pemerintah, sebab ditemukan sejumlah “bolong” dalam proyek ini. Dari 14 kriteria, setengahnya tak terpenuhi. Salah satunya adalah penetapan PT Jakarta Monorail yang akan menangani proyek monorel ternyata ditunjuk tanpa tender di masa Megawati.

Penunjukan tanpa tender ini jelas-jelas menabrak sejumlah aturan. Karena itu, direkomendasikan agar dilakukan tender ulang dan uji tuntas kembali. Mendengar ini, Kalla “naik pitam”. Boediono-Sri Mulyani lagi-lagi dinilai tak tangkas. Akhirnya, bendera putih dikibarkan Boed-Sri Mulyani. Keduanya sepakat memberikan penjaminan, dengan diimbuhi permintaan dari Boediono agar keberatannya dicatat.

* * *

Dari paparan panjang dan sejumlah contoh kasus ini, saya pribadi meragukan praduga yang sudah ditebar dalam kasus Century bahwa Sri Mulyani dan Boediono menyelamatkan bank bobrok itu semata-mata untuk kepentingan Istana. Sebab, kenyataannya berkali-kali mereka justru harus berhadapan dengan kukuhnya tembok Istana Presiden dan Wakil Presiden.

Sebaliknya, saya justru mempertanyakan para anggota Pansus dan partai-partai tempat mereka bernaung. Meski terkesan galak, bukankah sebagian besar dari mereka justru beramai-ramai merapat ke Istana untuk berebut kursi jabatan dan membangun koalisi. Tak terkecuali PDI-P yang akhirnya berhasil mendapat “kado istimewa” jabatan Ketua MPR bagi Taufik Kiemas dari Partai Demokrat.

Pertanyaan besar lain yang mengganggu saya, kenapa pula para anggota Pansus yang “super galak” itu mendadak melempem ketika ditanya “Akankah memeriksa Presiden Yudhoyono?” Hanya PDI-P dan Hanura yang sepakat. Sisanya menganggap belum perlu. Padahal, Sri Mulyani dan Boediono bolak-balik dicecar soal adanya intervensi Istana dalam kasus Century.

Jika sudah begini, siapa sesungguhnya yang tengah menjadi “Benteng Istana”?

Jgn SMS + Nyetir

Thursday, February 4, 2010 7:38
Posted in category Iseng, Uneg-Uneg

Hasil kreasi dari Om Lantip di Jogja…Bagus…Bagus (tendang 8 )

Akhirnya setelah sekian lama mencaci dan memaki orang – orang (sok) penting yang smsan di jalan raya, Om Lantip membuat desain setiker ini untuk kita semua. Di sela – sela kesibukan beliau sebagai anggota setap akhli seorang anggota de pe er dari jogja yang juga merangkap sebagai pakar pornomatika.

Thanks Om.

Theme Song World Cup 2010

Monday, January 25, 2010 7:23
Posted in category Iseng

Beberapa hari ini dengerin RCTI ada iklan mengenai piala dunia dan kayaknya theme song kali ini lumayan menarik. Terakhir kali berburu theme song itu waktu dinyanyikan sama Ricky Martin dengan Livin La Vida Loca. Dan asli lupa itu taon berapa.

Gak suka nonton bola sih :D

Buat yang pengen download theme song piala dunia 2010 ini silahkan klik

Install Windows XP di Compaq 510

Friday, January 22, 2010 7:06
Posted in category Computer Related

Compaq 510 (CQ 510) adalah laptop dalam kategori 3M (murah meriah muntah) seharga 5 jutaan dengan fasilitas yang udah lumayan oke. Kalau membeli plus OS baik itu versi resmi atau versi pak tani (bajakan) maka postingan ini bisa dilewatkan.

Kalau belinya kosong dan pengen install windows XP? Kalau itu kejadiannya maka kita harus mendisable SATA NATIVE MODE pada BIOS (tekan F10 untuk masuk ke BIOS kemudian pilih SYSTEM CONFIGURATION – DEVICE CONFIGURATION). Jika langkah itu sudah kita lakukan maka laptop sudah siap diinstall dengan Windows XP. Langkah ini mungkin tidak berlaku untuk Vista dan Windows 7.

Driver untuk Windows XP.

Driver untuk Windows Vista.

Hitam Putih Tasawuf [2]

Thursday, December 17, 2009 10:24
Posted in category Religion

Kelucuan Keempat:

Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan kepada makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syiah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun kuburan dan menjadikannya sebagai syiar mereka. Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya adalah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf mengelilinginya meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya. Bahkan kuburan Ma’rûf Al Kurkhi, seorang tokoh Sufi diyakini menjadi obat yang mujarab.

Pengagungan kubur adalah fitnah yang sangat keji yang sering dilancarkan untuk kaum Sufi. Mengenai pembangunan dan menghiasnya, itu adalah ungkapan hormat dan sayang dari para murid kepada gurunya yang telah meninggal, tetapi mengenai thawaf itu adalah fitnah yang luar biasa keji.

Kuburan sebagai obat dan tempat meminta berkah? Beberapa riwayat menyebutkan bahwa para salafus salih meminta berkat dan syafaat di kuburan Nabi Muhammad saw. Bagaimana dengan kita yang tidak setiap hari bisa mencium kubur Rasulullah? Selain masalah jarak juga ada larangan dari kaum Wahabi yang menguasai arab sekarang ini untuk mengaburkan masalah cium kubur ini. Untuk mengatasi itu maka orang – orang melakukannya di kuburan para ulama yang mereka percayai keramat dan dapat menolong mereka sebagai perpanjangan tangan syafaat Rasulullah.

Kelucuan Kelima:

Kaum Sufi menikam kaum Muslimin dari belakang dalam perjuangan melawan agresi musuh Islam.

Tidak ada komentar panjang untuk kelucuan yang ini selain mungkin si penulis artikel di Facebook itu perlu membaca dan mengkaji lebih banyak buku sejarah. Mungkin bisa dimulai dengan membaca artikel “Peranan Sufi dalam sejarah perjuangan Islam” dan “Chechnya: Sejarah, Perjuangan dan Masa Depan“.

Kemudian sebagai gambaran umum bagaimana para imam mazhab dan ulama – ulama besar lainnya bersaksi mengenai tasawuf dan sufi maka ada baiknya membaca “Kesaksian Para Ulama Besar Fiqih tentang Tasawuf dan Ulama Besar Sufi“. Jika mereka yang kita ikuti sebagai imam mazhab mengakui keutamaan tasawuf mengapa kita tidak?

Hitam Putih Tasawuf [1]

Monday, December 14, 2009 8:36
Posted in category Religion

Beberapa minggu yang lalu di Facebook teman ada yang masang status mengenai “Beberapa Kesamaan Tarekat Sufiyah dan Agama Syi’ah“,penasaran dengan judul itu aku langsung berlayar ke halaman dimaksud dan membaca dari awal sampai akhir sambil senyum – senyum sendiri kayak orang gila :D

Ada beberapa hal lucu yang disampaikan oleh si penulis yang sepertinya tidak pernah menggeluti tarekat secara langsung melainkan hanya membaca dari buku – buku dan omongan orang – orang yang mengaku ulama.

Kelucuan pertama:

Mengatakan bahwa Sufi dan Syi’ah memiliki kesamaan karena merasa memiliki ilmu yang tersembunyi, bahkan penulisnya mengutip kata – kata Syekh Abu Yazid Al Bustami “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya” dalam kitabnya al-Futûhât al-Makkiyah. Kalimat ini tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang – orang awam, pada kalimat ini Syekh Abu Yazid hendak menegaskan bahwa para salik telah menyelami lautan ilmu setelah mendapatkan restu dari para nabi yang berdiri di tepinya.

Hal ini wajar karena para nabi adalah orang – orang pilihan yang telah menyelam bahkan meminum air (baca: ilmu) dari lautan tersebut, untuk apa orang – orang yang telah kenyang dengan ilmu menyelam kembali bersama orang yang masih haus? Tentu saja mereka hanya berdiri ditepian sambil menunggu para penyelam kembali naik ke daratan.

Kelucuan Kedua:

Mengatakan persamaan antara Sufi dan Syi’ah adalah terlalu mengagungkan para imam mereka. Syi’ah mengatakan jika para imam diangkat dari bumi ini walaupun sebentar maka bumi akan hancur lebur, demikian juga dengan para Sufi yang mengatakan bahwa para wali ikut mengatur alam ini.

Mungkin penulisnya lupa bahwa ada hadits “Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut: Allah, Allah”. Pengucapan ini tentu saja bukan pengucapan secara vokal biasa, tetapi dengan metode dan cara yang benar sehingga nama Allah yang diucapkan dapat mencegah kiamat. Siapapun dan apapun agama seseorang, dia dapat dengan mudah menyebut Allah. Islam dan Kristen memiliki kesamaan dalam hal ini, tapi apakah sembarang orang dapat mencegah terjadinya kiamat hanya dengan mengucapkan Allah?

Para ulama sufi mengajarkan metode dan cara tersebut secara turun temurun dari guru ke muridnya. Terus seperti itu. Wajar jika kita mengidolakan guru yang memberikan ilmu tersebut daripada kita mengidolakan seseorang yang gak jelas asal usulnya.

Mengenai hak untuk mengatur alam ini, bukankah pada Allah juga melekat hak azasi yang memberikan hak kepada Allah untuk berbuat sesuka Dia? Kita gak akan pernah tahu apa maunya Allah.

Kelucuan Ketiga:

Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi’ah dan Sufi. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.

Semua orang berilmu pasti juga tahu bahwa dibalik wujud yang terlihat ada sesuatu yang tidak terlihat. Tubuh manusia yang dari luar terlihat terdiri dari kulit dan daging jika dibedah ternyata merupakan sebuah sistem yang kompleks. Tersusun dari jutaan syaraf dan urat, sendi dan tulang serta alat dalam tubuh lainnya.

Demikian juga dengan Islam, selain yang tersurat juga ada yang tersirat dan itu berbeda untuk setiap orang. Ada yang hanya bisa sampai kepada ilmu yang tersurat saja tanpa mampu melangkah lebih jauh tetapi tidak sedikit yang terbuka lebih daripada itu.

Karena terlalu panjang terpaksa dipisah jadi dua bagian.

Mazhab Yang Rapuh?

Friday, December 11, 2009 10:55
Posted in category Religion

Tentang perbedaan pendapat para Ulama terdahulu itu memang ada. Namun mereka saling menghargai, namun perlu diketahui di antara perbedaan itu ada pendapat yang lebih masyhur dan otentik, kalau ada jembatan yang kuat dan kokoh kenapa harus melewati (menjalani) melalui jembatan (mazhab) yang rapuh, hati-hati bisa kecebur?

Kutipan dari Serambi Indonesia.

Mazhab mana yang rapuh? Berani gak nulis namanya?

Betapa sedihnya ulama masa lalu, mereka sibuk disalahkan atas hasil pemikiran mereka oleh “(orang yang mengaku) ulama” pada masa kini.

Kebodohan Yang Sering Terjadi di Aceh

Thursday, December 10, 2009 8:39
Posted in category Acehku, Uneg-Uneg

Ulama/MPU/Teungku/apalah itu namanya

  1. Saling berdebat diantara mereka (lihat postingan sebelumnya) dan membingungkan umat dengan pernyataan mereka.
  2. Tidak mampu menyusun skala prioritas.
    Mendukung pengguntingan celana panjang di Aceh Barat, mendukung qanun jinayat tapi gak pernah mencoba membuat rancangan qanun anti korupsi. Penting mana memangnya antara gunting celana dan rajam dengan memotong dan merajam budaya suap dan korupsi di Aceh?

Pemerintah

  1. Dulu sibuk minta dana bagi hasil migas diperbesar, setelah ada dananya ternyata gak sanggup menghabiskan untuk membangun daerah.
  2. Gak berani menegakkan peraturan yang udah dibuat oleh mereka sendiri.
    Zona larangan parkir di depan BCA Banda Aceh, terminal liar di Simpang Surabaya, perebutan kursi ketua DPRA.

Masyarakat Umum

  1. Rendahnya kesadaran keselamatan jalan raya
    SMS sambil bawa kendaraan (pernah liat polwan pake seragam lengkap plus naek motor dinas smsan sambil bawa kendaraan), melanggar lampu merah, jalan pelan di jalur cepat (biasanya sambil nelpon).
  2. Rendahnya kesadaran kebersihan
    Abis makan snack di kendaraan langsung buang sampah di jalan, merokok trus buang puntungnya di jalan.

Ada lagi yang lainnya? Atau ada salah satu yang sering anda lakukan?

Kalau aku sih kadang masih suka nerobos lampu merah :D , tapi kalo masalah buang sampah aku berusaha keras mendisiplinkan diri untuk gak buang sampah sembarangan, apalagi dulu pernah liat kalo yang nyapu jalan pas subuh – subuh itu adalah nenek – nenek.

Pertentangan Ulama

Friday, December 4, 2009 5:19
Posted in category Acehku, Religion

Berawal dari berita di Harian Serambi Indonesia yang memberitakan bahwa MPU Larang Peredaran Buku Syeh Amran Wali yang kemudian ditanggapi melalui berita MPTT Amran Waly Sesalkan Keputusan MPU Aceh Utara serta sebuah opini pada harian yang sama berjudul Fatwa Sesat dan Pentingnya Dialog.

Tulisan – tulisan di atas membuat keningku berkerut, para ulama ini kenapa harus saling “berkelahi”. Apakah mereka tidak bisa duduk dalam sebuah forum untuk mendiskusikan hal ini sebelum statement mereka dikeluarkan untuk khalayak ramai?

Tidak bermaksud membela atau mencaci salah satu pihak, tapi bukankah MPU adalah wadah untuk berdiskusi bagi orang – orang yang merasa ulama? Namanya saja sudah Majelis Permusyawaratan Ulama.

Jangan salahkan umat yang selalu melupakan agama, kalau para ulama sendiri masih memperlihatkan ego mereka.

Lebaran…

Monday, September 21, 2009 6:21
Posted in category Religion

Ramadhan telah pergi, permintaan maaf datang silih berganti

Setelah ramadhan, sekarang saat kita kita bersenang-senang lagi, lupakan semua ucapan ustadz yang bilang kalo kita harus berpuasa tujuh hari di bulan syawal. Lupakan kalo kita sebenarnya harus menata hati kita dan lupakan bahwa pada hakikatnya puasa itu adalah setiap hari selama nyawa masih betah berada di dalam tubuh kita.

Selamat Hari Raya…